Recent Posts
Showing posts with label krakatau. Show all posts
Showing posts with label krakatau. Show all posts

Jan 21, 2012

0 comments

Kebangkitan Roh Krakatau dari Dasar Laut


|

Ledakan dahsyat dari bawah laut yang mengawali lahirnya Anak Krakatau terekam pada tahun 1928-1929.
Kebangkitan roh Krakatau itu awalnya dilihat oleh sekelompok nelayan pada suatu sore, 29 Juni 1927. "Dengan suara bergemuruh, gelembung-gelembung gas yang sangat besar mendadak menyembul ke permukaan laut," tulis Simon Winchester (2003), menggambarkan kemunculan gunung baru dari bekas kaldera Krakatau, "Gelembung-gelembung itu meledak menjadi awan-awan yang menyemburkan abu dan gas belerang yang berbau busuk."
Mendengar kabar samar dari warga, pada Januari 1928, geolog Belanda, JMW Nash, datang ke bekas kaldera Krakatau. Dia pun menyaksikan munculnya pulau baru atau lebih persisnya lapisan pasir berbentuk separuh lingkaran sepanjang sekitar 10 meter. Di pusat lengkungan, dia melihat gundukan batuan setinggi 8,93 meter di atas permukaan laut yang masih berasap. Lapisan pasir ini merupakan embrio kelahiran pulau gunung api yang diberi nama: Anak Krakatau. Gundukan yang menjadi pusat semburan itu kemudian terus menyembul ke atas dan menjadi kawahnya.
Kemunculan Anak Krakatau persis dengan ramalan Verbeek. Pada 1885, setelah beberapa kali kunjungan ke Krakatau, dia memperingatkan tentang kemungkinan kebangkitan roh Krakatau, "...jika gunung api ini melakukan aktivitas baru, diperkirakan pulau-pulau akan muncul di tengah cekungan laut yang dikitari oleh puncak Rakata, Sertung, dan Panjang, sebagaimana Pulau Kaimeni muncul dalam Kelompok Santorini, dan persis sebagaimana kawah Danan dan Perbuatan itu sendiri dulu dibentuk di laut di dalam dinding-dinding kawah purba."
Kelahiran kembali Anak Krakatau pasca-kehancuran 1883 menguatkan kisah tentang Proto Krakatau. Spekulasi ini awalnya disampaikan oleh George Adriaan De Neve yang menduga kaldera kuno Krakatau meledak pada abad ketiga masehi. Dia mendasarkan dugaannya pada dokumen sejarah dan deposit vulkanik yang terdapat di bawah laut Selat Jawa.
"Ada bukti bahwa jauh sebelum letusan 1883—barangkali 60.000 tahun yang lalu atau sebelum itu—ada sebuah gunung yang jauh lebih besar yang oleh beberapa orang geolog disebut Krakatau Purba yang mereka yakini setinggi 6.000 kaki dan terpusat di sebuah pulau yang nyaris bundar sempurna, dengan diameter 9 mil," sebut Winchester.
Namun, sebuah letusan dahsyat meluluhlantakkan pulau itu sehingga terbentuk gugusan pulau yang terdiri dari empat buah pulau kecil. Di ujung utara gugusan itu ada dua pulau karang yang rendah dan berbentuk bulan sabit, yang di timur disebut Panjang dan di sebelah barat disebut Sertung. Di dalam lingkaran yang dibentuk kedua pulau tadi, terdapat Polish Hat, yaitu potongan kecil batuan vulkanik, dan sebuah pulau yang terdiri dari tiga puncak, yaitu Rakata di puncak selatan, Danan di bagian tengah, dan Perbuatan di utara.
Keberadaan pulau-pulau ini sebelum letusan 1883 memang tak terbantahkan. Dari laporan-laporan perjalanan penjelajah Barat, pulau-pulau itu dulunya telah dihuni. Kapal Resolution dan Discovery yang dipimpin penjelajah Inggris terkenal, Kapten James Cook, pernah berhenti di Pulau Krakatau dua kali. Kedua kapal itu sedang dalam perjalanan mencari dunia selatan. Seperti yang dicatat oleh kolega Cook, botanikus Joseph Banks, pada Januari 1771, "Di malam hari membuang sauh di bawah pulau tinggi yang di kalangan para pelaut disebut Cracatoa dan oleh orang-orang India Pulo Racatta."
Banks melanjutkan laporannya, "... pagi ini ketika bangun kami melihat ada banyak rumah dan pohon-pohon perkebunan di Cracatoa, jadi barangkali kapal bisa menambah bekal di sini." Enam tahun kemudian Cook kembali singgah di sana dan masih menemukan desa-desa dengan ladang lada dan aneka tanaman lainnya.
Jauh sebelum para geolog berspekulasi soal keberadaan Proto Krakatau, orang-orang Jawa kuno sebenarnya telah memiliki keyakinan tentang keberadaan gunung ini. Bahkan, dalam mitologi Jawa, konon, Pulau Sumatera dan Jawa awalnya masih menyatu. Letusan Krakatau dianggap telah memisahkan daratan ini hingga menjadi dua pulau, seperti dituturkan dalam Kitab Raja Purwa yang ditulis pujangga Surakarta, Ronggowarsito, pada tahun 1869.
Alkisah, daratan Jawa dan Sumatera waktu itu masih menyatu. Suatu ketika, Sri Maharaja Kanwa, yang memimpin tanah Jawa, terbawa angkara dan menikam seorang pertapa yang bernama Resi Prakampa hingga tewas. Seketika itu juga Gunung Batuwara terdengar bergemuruh. Gunung Kapi—nama lama Krakatau—mengimbanginya dengan letusan dahsyat, keluar apinya merah mengangkasa, guruh guntur, air pasang menggelora, lalu datang bencana berupa air bah dan hujan lebat. Nyala api yang merah membara tidak terpadamkan oleh air, malah semakin besar. Gunung Kapi runtuh bercerai-berai masuk ke dalam bumi.
Air laut menggenangi daratan, mencapai Gunung Batuwara atau Gunung Pulosari ke timur hingga Gunung Kamula, Gunung Pangrango atau Gunung Gede, dan ke barat hingga Gunung Rajabasa di Lampung. Ketika laut telah surut kembali, Krakatau dan tanah-tanah di sekitarnya telah menjadi lautan. Di bagian barat laut dinamakan Pulau Sumatera dan di bagian timur dinamakan Jawa.
Narasi dalam Kitab Raja Purwa ini, bagi sebagian ilmuwan Barat hanyalah dongeng yang awalnya dipandang sebelah mata. Kitab ini nyaris tak pernah menjadi rujukan penelitian tentang Krakatau. Namun, belakangan, temuan lapisan endapan yang jauh lebih tua dibandingkan letusan 1883 menguatkan bahwa Krakatau pernah meletus sebelum tahun itu.
"Sebelum pembentukan kaldera 1883, Krakatau minimal dua kali meletus. Kami menemukan dua kelompok hasil letusan kaldera di bawah lapisan endapan yang terbentuk pada tahun 1883, lokasi persisnya di singkapan timur-tenggara Pulau Rakata dan Panjang," kata Sutikno.
Pendataan karbon yang dilakukan oleh Haraldur Sigurdsson tahun 1999 menemukan, di bawah endapan akibat letusan 1883 terdapat endapan yang terbentuk pada tahun 1215 masehi dan 6600 sebelum masehi.
Ahli tsunami, Gegar Prasetya, juga meyakini keberadaan Krakatau Purba yang pernah meletus jauh lebih hebat dibandingkan letusan tahun 1883. Bahkan, tidak menutup kemungkinan "dongeng" tentang pemisahan Jawa dan Sumatera akibat letusan Krakatau itu adalah kenyataan geologi.
Ken Wohletz dari Los Alamos National Laboratory telah membuat simulasi tentang kemungkinan pemisahan Pulau Jawa dan Sumatera itu akibat letusan leluhur Anak Krakatau. Kesimpulannya, letusan super (supereruption) berskala 8 dalam indeks letusan gunung api (volcanic explosivity index /VEI) sebagaimana letusan gunung api super (supervolcano) Toba di Sumatera Utara bisa sangat mungkin pernah terjadi di Krakatau.
Tak gampang membayangkan bagaimana kedahsyatan letusan Proto Krakatau itu, mengingat letusan Krakatau pada 1883 saja sudah sedemikian mengerikan dan menimbulkan petaka tak terperi.
( Labels: , , ) Read more
0 comments

Sumber Pengetahuan Penting Ada di Krakatau


Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas mengamati tumbuhan harendong (Melastoma malabathricum) di Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Senin (15/8/2011). Di gunung ini, tim memfokuskan eksplorasi mengenai suksesi alam. Gunung Anak Krakatau, pada awal kemunculannya tidak dihuni makhluk hidup, kini menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna. Berdasarkan survei antara 1981 dan 2008 telah ditemukan sebanyak 122 jenis pohon berkayu, 42 jenis semak belukar, 71 jenis tanaman merambat, dan 173 jenis tanaman obat-obatan.

Krakatau memang tak hanya berarti petaka dan kematian. Tukirin dan para ahli botani telah memberikan pelajaran bahwa Krakatau juga sumber pengetahuan penting bagi geologi, vulkanologi, hingga biologi. Tracey Louise Parish dari Universitas Utrecht, Belanda, menyebutkan, Krakatau merupakan sebuah kasus yang unik dan tak ternilai yang mengisahkan bagaimana penghancuran dan pemulihan kehidupan kembali di alam tropis yang kompleks.
Lebih istimewa lagi karena penghancuran dan pemulihan itu tercatat sedari awal. "Biografi Pulau Krakatau sangat lengkap. Terlengkap yang pernah dibuat di dunia ini. Hanya Krakatau, pulau yang sejak letusan dinyatakan steril selalu terdata secara reguler penambahan populasinya," kata Tukirin. "Dalam hal ini, kita harus berterima kasih kepada ilmuwan dunia, khususnya Belanda, yang mencatat sejak dini."
Selain itu, munculnya Anak Krakatau juga memberikan kesempatan sekali lagi kepada peneliti untuk membangun teori tentang suksesi ekologi dan kolonisasi di sebuah pulau yang muncul dari laut. Tumbuhnya Anak Krakatau juga memberikan pembelajaran bagaimana letusan-letusan itu memengaruhi arah suksesi di pulau lain sekitarnya.
Krakatau memberikan pelajaran tentang Bumi yang hidup dan terus tumbuh. Kelahiran dan kematian gunung api, lalu kebangkitan kembali ekologi di tabula rasa, adalah pokoknya.
Namun, sudahkah kita belajar?
Hidup berdamping dengan gunung api merupakan kemestian yang dialami masyarakat Nusantara sedari dulu. Diberkahi 129 gunung api aktif, atau 30 persen dari gunung api di dunia, tak memungkinkan kita menjauhinya Di balik ancaman dan petaka yang dikirimnya, gunung api menciptakan bentang alam Nusantara yang istimewa dan unik, selain juga kekayaan mineral dan panas bumi yang berlimpah. Namun, pertanyaan kuncinya adalah bagaimana siasat kita hidup berdampingan dengan gunung-gunung api itu?
"Selama ini kita baru sedikit mengetahui soal Anak Krakatau dan juga kaldera Proto Krakatau. Penelitian tentang hal ini masih sangat kurang," kata Sutikno Bronto, "Bahkan, masih banyak masyarakat yang tidak tahu keberadaan kaldera-kaldera tua itu."
Minimnya pengetahuan dasar tentang Krakatau ini membuat pengetahuan tentang potensi ancaman dari Anak Krakatau yang terus tumbuh membesar itu juga nyaris tidak ada. Bagaimana mau melakukan mitigasi bencana jika kita tak cukup pengetahuan tentangnya. "Semuanya bermuara pada minimnya dana dan perhatian ke soal-soal gunung api," keluh Surono.
Dia menceritakan, saat Anak Krakatau menggeliat di bulan Oktober 2001 itu, selama lebih dari dua minggu, pusat kontrol gunung api di kantornya kehilangan akses langsung terhadap perkembangan Anak Krakatau dan gunung-gunung api di seluruh Indonesia. "Sambungan satelit diputus karena tagihannya tidak dibayar," kata Surono. "Akhirnya kembali ke manual, perkembangan situasi gunung api dilaporkan lewat SMS, faks, dan telepon."
Surono juga menceritakan tentang kurangnya alat, petugas pemantauan, dan tenaga ahli yang menangani gunung api. "Belum semua gunung api terpantau. Kami terpaksa memilih mitigasi terhadap gunung api yang letusannya bisa berdampak besar terhadap masyarakat," katanya.
Setiap tenaga ahli di PVMBG, kata Surono, harus menangani minimal lima gunung api. "Ini kondisi sangat tidak ideal. Di Jepang, satu gunung api dikeroyok oleh puluhan ahli," katanya.
Bahkan, Singapura yang tak memiliki gunung api selangkah lebih maju dibandingkan Indonesia. Negara tetangga yang relatif aman dari bencana geologi ini memiliki pusat kajian tentang gunung api, Earth Observatory of Singapore, di bawah naungan Nanyang Technological University. "Beberapa ahli kita bergabung di sana," kata Surono. Ke depan, barangkali Indonesia harus belajar tentang gunung api dari Singapura.
Seperti penelitian geologi dan vulkanologi yang minim, perhatian di bidang botani juga sangat kurang. "Yang memanfaatkan Krakatau, laboratorium suksesi alam satu-satunya dan terlengkap, kebanyakan peneliti dan media asing," kata Tukirin.
Tukirin satu-satunya peneliti botani dari Indonesia, yang bertahan menekuni suksesi Krakatau. "Saya menjadi peneliti Krakatau awalnya karena kebetulan. Semua penelitian saya ke Krakatau sejak 1980-an tidak dibiayai Pemerintah Indonesia sepeser pun, tetapi nebeng dari penelitian universitas dan lembaga luar negeri," kata Tukirin, yang ke Krakatau minimal setahun sekali ini.
Kita memiliki keajaiban alam tiada duanya, tetapi tidak peduli. "Saat ke Oxford, ditanya saya meneliti Krakatau, profesor di sana langsung bilang, Krakatau selalu jadi rujukan dalam kuliah biogeografi. Di sekolah-sekolah di Jepang, pelajaran tentang suksesi primer juga selalu mengambil contoh Krakatau. Tapi, di Indonesia banyak yang tak paham soal keunikan Krakatau ini," katanya.
Senja mulai menjelang saat perahu kayu membelah gelombang, meninggalkan kehidupan dan kehijauan yang mulai pulih di tengah keterpencilan kompleks Krakatau. Tukirin sekali lagi menatap puncak Anak Krakatau yang mengepulkan asap tipis. "Semakin lama, pemulihan alam di Krakatau semakin sulit karena hutan di Jawa dan Sumatera yang menjadi sumber benih semakin hilang," ujarnya.
Kekhawatiran Tukirin perlahan mewujud. Perlahan-lahan bayangan kawasan pesisir Banten kian jelas dan membesar. Lampu-lampu hotel, perumahan, dan cerobong asap pabrik menyesaki pinggir pantai, tak menyisakan lagi ruang bagi hutan. Sepanjang kawasan yang pernah tersapu tsunami letusan Krakatau itu kini penuh sesak dengan manusia.
Hampir malam saat kami tiba di Pantai Carita-Anyer, debur ombak memecah pantai. Angin sepoi-sepoi. Nun jauh, dalam samar, Anak Krakatau berdiam diri di tengah laut. Inilah pantai yang sejak zaman Belanda telah menjadi tempat warga Jakarta lari dari penat.
Tsunami setinggi 25 meter yang pernah melanda kawasan ini saat Krakatau meletus pada 1883 nyaris tak terlihat jejaknya selain karang sebesar rumah yang terserak di pekarangan salah satu hotel di sana. Tak banyak pengunjung yang mengenali riwayat batu karang itu yang, menurut catatan Simkin dan Fiske (1983), terbongkar dari bawah laut dan terseret ke pantai karena empasan tsunami.
Bagi Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Provinsi Banten Achmad Sari Alam, Gunung Anak Krakatau dan aktivitas vulkaniknya merupakan aset wisata belaka. "Anak Krakatau itu bukan ancaman, tapi potensi wisata yang dapat dimanfaatkan untuk mengundang wisatawan datang ke Banten, terutama ke kawasan pantai sepanjang Anyer-Carita," kata Achmad.
Pada saat gelombang Selat Sunda tidak tinggi dan cuaca cerah, wisatawan dapat diajak melihat panorama Anak Krakatau lengkap dengan lelehan lava pijar maupun letupan seperti kembang api di malam hari ketika gunung api tersebut sedang beraktivitas vulkanik. "Anak Krakatau sudah masuk ke dalam paket wisata yang ditawarkan bagi turis yang hendak berkunjung ke Indonesia, baik mereka yang datang berwisata melalui Lampung maupun Banten," katanya.
Sekalipun Anak Krakatau terus memberikan peringatan dengan letusan-letusan kecil nyaris sepanjang tahun, nyaris tak ada kekhawatiran bahwa bencana akan mungkin kembali terulang. Cara pikir masyarakat di pesisir Banten dan Lampung itu mengingatkan pada keadaan sebelum letusan Krakatau 1883.
"Memang, setiap orang pernah mendengar cerita tentang letusan di zaman kuno, dan ada orang yang mengamati peta dan beranggapan mereka pernah mendengar cerita ketika Jawa dan Sumatera merupakan satu pulau yang kemudian terbelah menjadi dua akibat peristiwa vulkanik mahadahsyat di zaman dahulu," tulis Winchester. "Sebagian orang waktu itu beranggapan Krakatau sudah lama padam dan tidak lagi berbahaya."
Sejarah seperti berulang. Anak Krakatau bagi kebanyakan orang hanyalah tontonan, dan batu pijar yang kerap dilontarkannya seolah kembang api tahun baru yang sama sekali tidak berbahaya. "Asalkan tak terlalu dekat," kata Achmad. Sungguh, sejarah kehancuran itu sudah terkubur dalam-dalam di benak masyarakat
.
( Labels: , , ) Read more
Best viewed on firefox 5+

Quote

Followers

Get Traffic Like Spam

Labels

teknologi (14) London (6) fenomena (4) google (4) jaringan (4) komputer (4) Detective Conan (3) Facebook (3) download (3) games (3) lubang hitam (3) terbaru (3) Bola (2) Musik (2) Smartphone (2) UBUNTU (2) Zunkerberg (2) alam (2) bima sakti (2) detective (2) gunung (2) krakatau (2) pengetahuan (2) server (2) Adele (1) Alex Sturrock (1) Attack (1) Barack Obama (1) Budaya (1) Bug (1) Deadly Kissing (1) Diablo 3 (1) Eropa (1) GNOME (1) Gletser Es (1) HIV/AIDS (1) Hacked (1) Hole (1) Intel (1) Internet (1) J-pop (1) Jepang (1) KDE (1) Linux (1) Movie (1) O'Reilly (1) Planet (1) Shark (1) Sony (1) Strategi (1) Subtitle (1) Tips (1) Video (1) War (1) Washington (1) Wisata (1) Xolo (1) action (1) angkasa (1) berita (1) bulan (1) charger (1) dinosaurus (1) fase bulan (1) fossil (1) gokil (1) hukum (1) iPad (1) imlek (1) kocak (1) learning (1) lost saga (1) lucu (1) media (1) opening (1) purba (1) resident evil (1) sejarah (1) sherlock holmes (1) spesies (1) teka-teki (1) trailer (1)
Copyright © Design by Hafiz Pradana Gemilang